Jumat, 05 Oktober 2018

Sastrawan Pahlawan atau Bukan?


Saat menguarnya wacana Chairil Anwar diangkat sebagai pahlawan Indonesia, tak sedikit yang mengernyitkan dahi. Pertanyaan atau pertentangan keduanya sama-sama bermunculan. Pertanyaan yang paling awam didengar adalah, “Memangnya apa yang dilakukannya hingga pantas mendapatkan gelar pahlawan?” atau “Puisi Chairil kan tidak berorientasi untuk bangsa Indonesia, individualis bahkan. Bagaimana bisa menjadi dasar diangkatnya sebagai pahlawan Indonesia?” atau “Chairil dulu kan tidak ikut membidikkan tulup untuk mengusir serdadu. Mengapa bisa dinobatkan sebagai pahlawan?”

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Lantas orang yang seperti apa yang bisa kita sebut sebagai pahlawan? Apakah yang dulu tak kenal lelah mengacungkan bambu runcing? Apakah mereka yang selalu melakukan konferensi dengan penjajah? Atau apakah mereka yang berada dibalik terkibarnya sang Saka di seluruh penjuru negeri?

Pahlawan. Hanya satu kata namun bisa membuat kita bertekuk lutut. Hanya satu kata namun bisa membuat kita mengilas balik memori pada masa-masa penuh ketakutan. Hanya satu kata namun bisa membuat huru hara seantero negeri.

Titik berat pandangan rakyat Indonesia mengenai pahlawan adalah dia yang mengucurkan segala keringat untuk melawan musuh. Dia yang unjuk otot atau dia yang berusaha menyusun strategi taktik penyerangan. Namun nyatanya, pahlawan lebih dari itu.

Pahlawan adalah dia yang mampu berkorban dengan keberaniannya yang mengobar untuk membela kebenaran. Pahlawan adalah dia yang memiliki sikap gagah berani, menentang di barisan paling depan terhadap ketidakadilan. Pahlawan adalah dia yang mampu menjadi panutan dan berhak dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Hanya hal kecil yang bernama kesalahpahaman mampu membuat rakyat Indonesia memiliki pandangan yang berbeda mengenai sosok pahlawan. Ada yang berkata, “Ibu adalah pahlawanku,” atau “Pahlawan itu yang dibuat patungnya lalu dipertontonkan di museum-museum,” atau justru “Bukan. Pahlawan itu yang wajib kita hafalkan di bangku sekolah dasar dan lukisannya dipajang berderet-deret di dinding.”

Pahlawan berhak mendapat lebih dari sekadar masuk dalam ingatan setiap warga Indonesia. Pahlawan berhak mendapat lebih dari sekadar diingat saat mengheningkan cipta. Pahlawan berhak mendapat lebih dari sekadar dibuat museum, patung, atau malah pajangan. Pahlawan berhak mendapat lebih dari itu.

Akan lebih bermoral jika kita menjadikan pahlawan sebagai idola kita. Idola yang setiap kali dipuja seolah hidup kita selalu berorientasi untuk mencontohnya. Idola yang setiap kali kita mengingat bukan hanya sekadar mengingat jasanya tetapi juga mendoakannya. Idola yang setiap kali bertindak selalu kita jadikan panutan.

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Jelasnya, definisi pahlawan sudah dipaparkan dalam pasal 25 dan 26 UU Nomor 20 Tahun 2009, untuk memperoleh gelar pahlawan nasional, seseorang harus memenuhi beberapa syarat umum dan khusus, yang di antaranya seperti : 1) Warga Negara Indonesia, 2) Punya integritas moral dan keteladanan, 3) Berjasa terhadap bangsa dan Negara, 4) Mengabdi sepanjang hidupnya atau melebihi tugas yang diembannya, 5) Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Dalam sepenggal undang-undang yang sudah dipaparkan, tidak ada yang membahas mengenai bambu runcing, rencong, linggis, atau senjata apapun. Namun, sepenggal itu sudah menegaskan dengan gamblang, pahlawan adalah dia yang pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Saya tidak berkata bahwa dulu yang menodongkan senjata tidak bisa disebut sebagai pahlawan. Mereka juga bisa disebut sebagai pahlawan. Siapapun bisa disebut sebagai pahlawan dengan cara yang berbeda-beda. Dengan pandangan yang berbeda-beda. Dengan keahlian yang berbeda-beda. Dengan peran dan jatah yang berbeda-beda. Pahlawan dengan caranya masing-masing.

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Dari beberapa syarat yang dipaparkan dalam undang-undang, si Chairil jelas bisa disebut memenuhi kesemua syaratnya. Faktanya, Chairil tidak hanya membuat puisi personal atau yang mereka sebut individualis, tetapi beberapa karya Chairil seperti “Diponegoro” atau “Perjanjian dengan Bung Karno” bahkan terus maju tanpa gentar diulang-ulang saat hari kemerdekaan.

Rakyat Indonesia banyak yang berusaha mengenang karyanya dengan membacanya berulang kali. Namun, sudah saya katakan, mengenang bukan hanya mengingat tentang karyanya.

Karya Chairil selalu digadang-gadang tak peduli sudah luput oleh usia. Tidak peduli sudah terlampau kuno. Tak peduli sudah termakan perjalanan waktu. Mengapa? Karena Rakyat Indonesia mencintai karyanya. Lantas mengapa Chairil tidak bisa menjadi pahlawan?

Kalau begitu, pandangan Anda masih belum berubah mengenai pahlawan. Baik, mari kita bahas dengan sudut pandang Anda. Chairil disebut-sebut Profesor A. Teeuw, ahli kesusastraan Indonesia, punya peran penting dalam pematangan bahasa Indonesia yang pada zamannya masih seumur jagung dan tak punya fondasi bahasa yang kuat.

Chairil mempromosikan bahasa Indonesia, lantang menggunakannya yang saat itu hanya menjadi konsumsi publik terbatas. Lewat puisi-puisinya, ia memelihara satu-satunya faktor pemersatu jutaan orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke selain mitos kesamaan nasib dijajah Belanda : Bahasa Indonesia. Lantas mengapa Chairil tidak bisa menjadi pahlawan?

Pun begitu ketika kita menyoal yurisprudensi terpilihnya sastrawan sebagai pahlawan nasional, Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional mengambil patokan, bahwa apabila WR Supratman dengan lagu Indonesia Raya saja mampu menjadi pahlawan, mengapa Chairil tidak?

Logika analogi tersebut mungkin masih bisa didebat, dengan misalnya mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan Indonesia dan masih digunakan hingga kini. Namun, apabila klaim Teeuw benar, bahwa Chairil menjadi pematang bahasa Indonesia, apa itu belum cukup?

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Bahasa Indonesia menjadi jembatan bagi ribuan pulau, penghubung banyak lautan, dan penyambung segala perbedaan yang tumbuh di Indonesia. Bayangkan jika hingga saat ini, penggunaan bahasa Indonesia tidak dikonsumsi oleh seluruh kalangan. Bayangkan jika bahasa Indonesia hanya digunakan untuk masyarakat golongan atas. Bahkan, bayangkan jika tidak pernah ada bahasa Indonesia. Tentu kita tidak bisa menguasai dari Sabang sampai Merauke.

Namun, bayangkan jika bahasa Indonesia selalu digunakan. Bayangkan jika bahasa Indonesia dengan segala keunikan di dalamnya digunakan sebagai satu-satunya cara kita berkomunikasi dengan makhluk sosial lain. Tentu kita bisa menguasai dari Sabang sampai Merauke.

Karena bahasa Indonesia jiwanya bangsa Indonesia. Masih tidak percaya?

Apa yang menjadi tonggak awalnya kemerdekaan Indonesia? Tepat, proklamasi. Bahasa apa yang digunakan dalam proklamasi? Tidak perlu muluk-muluk bahkan perembugan proklamasi saja menggunakan bahasa Indonesia. Lantas bagaimana seluruh penjuru Indonesia tahu bahwa dirinya sudah merdeka? Di radio, di surat kabar, mereka memberitakannya. Sekali lagi dengan bahasa Indonesia. Berita itulah yang membuat mereka mengerti bahwa mereka akhirnya terlepas dari siksaan jasmani maupun rohani. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa berita itu bisa dimengerti juga berkat bahasa Indonesia. Sebesar itulah jasa bahasa Indonesia yang sekarang bisa membuat kita bernapas mengambil oksigen sebanyak-banyaknya tanpa rasa takut akan terbunuh oleh senapan. Dan sebesar itu pula jasa para sastrawan yang berhasil mengembangkan layar bahasa Indonesia. Lantas mengapa sastrawan tidak bisa menjadi pahlawan?

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Pasti masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran, “Memang ada pahlawan yang dulunya sastrawan?” Bukannya tidak ada tapi kita yang menolak untuk tahu. Menolak untuk mengerti. Menolak untuk mempelajari. Banyak pahlawan besar yang memiliki latar belakang seorang sastrawan.

Abdul Moeis. Siapa yang tidak mengenal beliau? Beliau adalah aktivis dan politikus Minang. Tidak hanya itu, nama beliau juga dikenal sebagai sastrawan dan wartawan yang aktif pada masanya. Salah satu karyanya yang sangat mengangkasa adalah “Salah Asuhan” yang saat ini masih terus dibaca oleh masyarakat Indonesia. Novel tersebut dibuat di Garut, Jawa Barat, saat ia mengalami pengasingan di Agam, Sumatera Barat.

Amir Hamzah. Nama beliau juga masuk sebagai pahlawan Nasional. Latar belakang kehidupannya adalah seorang sastrawan angkatan Pujangga Baru. Gaya bahasanya sangat beranding terbalik dengan penulisan Chairil Anwar. Jika ia menulis puisi mengenai Tuhannya dengan perasaan rindu yang mengharu biru, maka Chairil justru menulis puisi “Gelanggang Kami Berperang”. Pun begitu pula dengan Muhammad Yamin. Sosok yang terpatri di pikiran warga Indonesia sebagai sosok politikus yang berdiri di baris depan juga turut berperan penting dalam proses pengembangan bahasa Indonesia. Salah satunya saat proses sumpah pemuda. Saat itu, angan keindonesiaan yang masih mengambang di angkasa menjadi lebih terealisasi. Sejak saat itu, Chairil meneruskan usaha Muhammad Yamin dengan menghidupkan bahasa Indonesia dalam puisi-puisinya.

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Apakah kita masih ingin menutup mata dan telinga kita mengenai jasa sastrawan untuk bangsa Indonesia? Bukankah pahlawan yang sebenarnya adalah yang berjasa dan yang menghasilkan karya bagi kesejahteraan manusia?

Terkadang, jasa-jasa kecil yang kita anggap remeh sering kita lupakan. Bahkan tidak kita hiraukan sama sekali. Para sastrawan memang tidak muluk-muluk berdiri menentang penjajah, rela mati mengorbankan jiwanya, meninggalkan keluarganya yang menunggunya di rumah, dan merelakan perutnya berkali-kali tertusuk belati. Para sastrawan memang tidak muluk-muluk berdiri di depan semua orang menyampaikan orasinya mengenai kemerdekaan. Menyuarakan kebebasan. Para sastrawan memang tidak muluk-muluk duduk berjam-jam demi melakukan perjanjian, demi melakukan negosiasi dengan penjajah. Para sastrawan hanya melakukan sedikit dari kemampuannya. Setidaknya suatu hal kecil yang dilakukan para sastrawan yang bernama sastra mampu mengubah nasib bangsa Indonesia. Satu kata itu mampu menyatukan seantero negeri hingga seluk pelosoknya. Mampu menjadi jembatan bermil-mil lautan lepas di Indonesia. Satu hal kecil itu yang menyatukan serpihan daratan yang terpecah belah menjadi satu nama, Indonesia.

Sastrawan pahlawan atau bukan?

Pertanyaan itu memang masih terngiang di benak rakyat Indonesia. Jawabannya, jelas bisa iya atau bisa tidak. Dan satu-satunya yang menentukan adalah pandangan masing-masing rakyat Indonesia. Wacana pengangkatan sastrawan menjadi pahlawan nasional menuai pro dan kontra. Sebagian dari mereka yang belum memahami betul apa sesungguhnya definisi dari pahlawan mungkin akan menatap dengan sebelah mata. Namun, apabila pendapat tersebut dipaksakan, maka tidak ada hasilnya juga. Untuk apa dinobatkan sebagai pahlawan jika jauh di dalam jiwanya tidak menganggap pahlawan. Untuk apa dinobatkan sebagai pahlawan jika tidak menjadikannya sebagai panutan. Karena menjadi pahlawan lebih dari sekadar dipajang dan dipuja.

Sastrawan pahlawan atau bukan?



Penulis : Shafira Khalisa Hanun

XI MIPA 5

Keberagaman Mempersatukan Indonesia


            Indonesia merupakan suatu negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, hal ini dikarenakan Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurut Dahuri et al, 1996 Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau (citra satelit terakhir menunjukkan 18,108 pulau) termasuk 9.638 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni. Masing-masing pulau terdiri dari berbagai suku bangsa dimana masing-masing suku  bangsa tersebut memiliki perbedaan dan keunikan baik dari segi bahasa daerah, adat istiadat, kebiasaan, dan berbagai hal lain yang memperkaya keanekaragaman dari budaya Indonesia itu sendiri. Adanya keberagaman ini menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia. Sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung makna berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan ini menjadi pedoman bagi masyarakat ketika menyikapi keberagaman yang ada.

            Di zaman yang serba modern pengaruh globalisasi sudah tidak terbendung lagi. Globalisasi adalah arus pertukaran budaya dari suatu negara atau bangsa ke suatu negara atau bangsa lain yang meliputi segala aspek kehidupan melalui komunikasi atau transportasi. Maraknya remaja di Indonesia lebih mencintai budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Tak sedikit anak muda yang lebih hafal dengan lagu-lagu barat dan lebih menyukai kebudayaan luar yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Mirisnya, tak sedikit juga anak Indonesia yang tidak hafal dengan lagu kebangsaannya sendiri. Lagu daerah pun sudah mulai tertinggal tidak dikenal oleh anak-anak Indonesia. Selain itu, tarian Indonesia juga sudah mulai ditinggalkan dan banyak anak Indonesia yang lebih tertarik pada tarian luar seperti dance, hip hop, dan lain sebagainya. Jika hal ini terus dibiarkan, kebudayaan Indonesia akan punah dan akibatnya berkurang karena tidak dikenal oleh anak cucu kita.

            Kita sebagai rakyat Indonesia seharusnya wajib mengetahui budaya yang kita miliki. Tidak hanya mengetahui tetapi marilah kita mengenal lebih dekat budaya yang ada di Indonesia. Kecintaan terhadap budaya itu sangat penting, karena itu merupakan salah satu wujud peduli dan pengakuan kita terhadap budaya itu sendiri. Karena banyaknya budaya yang kita miliki, pastilah harus tercipta keseimbangan antara budaya-budaya tersebut. Bagaimana caranya agar budaya-budaya yang ada menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia? Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pedoman sehingga seluruh kebudayaan tersebut bisa menyatukan bangsa Indonesia ini. Perbedaan budaya yang kita miliki di setiap suku itu adalah anugerah, karena dari perbedaan  kita bisa belajar dan memahami satu sama lain dan perbedaan tersebut dimaksudkan agar kita bisa saling melengkapi . Jadi jangan pernah berfikir bahwa perbedaan  akan membawa perpecahan dari perbedaan budaya ini, justru kita menjadi satu karena perbedaan tersebut. Selain itu, bangsa Indonesia memiliki Bahasa Indonesia yang menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia. Walaupun masing-masing suku memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda tetapi kita memiliki Bahasa Indonesia yang digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia.

Dalam melestarikan kebudayaan ada banyak cara yang dapat dilakukan seperti acara budaya tahunan, expo budaya Indonesia, dan lomba-lomba kesenian. Diadakannya lomba bulan bahasa ini pun merupakan bentuk pelestarian siswa terhadap kebudayaan Indonesia. Diadakannya lomba macapat antar kelas dapat meningkatkan pengetahuan siswa terhadap budaya Jawa. Selain itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus mempelajari budaya yang lain yang ada di Indonesia. Jangan mencoba acuh tak acuh terhadap budaya kita di dalam negeri. Karena ketika masyarakat saling mengenal budaya satu sama lain dan memahami budayanya sendiri, maka terciptanya keseimbangan antar budaya pasti akan mudah kita raih .  

Penulis : Difa Berliana Putri

XI MIPA 4

Budayaku, Pemersatu Bangsaku


Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan penduduk terbesar ke lima di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 200 juta jiwa yang bersasal dari 1.340 suku bangsa (Badan Pusat Statistik, 2010). Beragam suku dan etnis tersebut hidup berdampingan dengan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda dengan ciri khas masing-masing. Adanya perbedaan letak geogafis juga menambah keberagaman budaya dari masing-masing daerah yang telah menjadi warisan budaya generasi sebelumnya. Budaya-budaya itu meliputi rumah adat, senjata tradisional, pakaian adat, alat musik, tari tradisional, dan kebudayaan lainnya.Termasuk juga 1.158 bahasa daerah yang digunakan di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2010). Adanya keberagaman tersebut dapat menjadi  alat pemersatu bangsa ini. Seperti dalam semboyan negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang menunjukkan bahwa dengan adanya berbagai keberagaman budaya yang kita miliki, kita bisa bersatu padu untuk memajukan bangsa ini.

Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu sendiri (Melville J. Herskovits dan Broinslaw Malinowski). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu berasal dari proses belajar. Hal tersebut berarti keberlangsungan kebudaayaan tersebut terletak pada generasi sebagai pewaris kebudayaan tersebut dalam menjaga dan melestarikan dengan mempelajari kebudayan tersebut. Namun, seriring berkembangnya zaman, adanya pengaruh globalisasi membuat bangsa Indonesia lebih menyukai budaya asing dan meninggalkan budaya tradisional. Tak sedikit anak muda yang lebih mudah hafal dengan lagu-lagu pop atau lagu-lagu pop barat. Lalu bagaimana dengan lagu daerah? Bahkan bisa jadi mereka tidak mengenalnya. Tak hanya itu, anak-anak pada masa ini juga lebih tertarik bermain dengan game yang ada di gadget-nya sehingga terkadang sering mengabaikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Padahal permainan tradisional yang kebanyakan menyatukan pemainya dapat menumbuhkan jiwa sosialnya. Banyak orang yang membangga-banggakan dirinya karena bisa meniru budaya bangsa lain, tetapi mereka tidak pernah mempelajari budaya bangsanya sendiri. Jika hal itu terus terjadi, kebudayaan tradisional Indonesia akan punah. Jika kebudayaan itu punah, lalu apa yang akan kita kenalkan pada anak cucu kita nanti? Apakah kita membiarkan mereka untuk tidak mengenal budayanya sendiri? Oleh karena itu sebagai generasi penerus kita harus melestarikan budaya bangsa agar kebudayaan ini tetap menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia.

Rumusan pasal 32 ayat 1 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berbunyi  “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Dengan adanya ketentuan ini, sudah jelas bahwa negara sangat mendukung kebudayaan nasional Indonesia. Oleh karena itu kita sebagai warga negara bisa dengan bebas untuk mengembangkan kebudayaan dari setiap daerah asal kita. Sehingga kebudayaan dari daerah masing-masing tetap lestari. Melestarikan kebudayaan Indonesia adalah cara kita agar kebudayaan itu tidak di klaim oleh negara lain.

Dalam melestarikan kebydayaan kita bisa memulainya dengan cara yang sederhana. Seperti di sekolah tercinta kita ini yang menerapkan kebijakan penggunaan bahasa daerah (bahasa Jawa) setiap Hari Kamis. Semua warga sekolah dari siswa sampai guru, harus menggunakan bahasa Jawa baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun di luar kegiatan belajar mengajar. Hanya hal sederhana saja, namun dengan hal itu biasa menjadi bentuk upaya melestarikan kebudayaan Indonesia berupa bahasa daerah. Contoh yang lain yaitu adanya ekstrakurikuler karawitan. Dalam ekstrakurikuler tersebut kita dapat belajar dan berlatih bermain gamelan sebagai alat musik khas Jawa sehingga dapat melestarikan kebudayaan kita. Jika orang asing dengan semangat mempelajari gamelan, sedangkan kita tidak pernah belajar sama sekali, apakah tidak malu?

Isu tentang kebudayaan Indonesia seperti batik, gamelan, Tari Tor-tor, dan Tari Jaipong yang diklaim oleh negara Malaysia haruslah menjadi motivasi untuk kita agar  lebih giat dalam melestarikan kebudayaan. Karena kebudayan tersebut merupakan warisan dari generasi sebelumnya yang harus kita lestarikan.

Sebagai generasi muda kita wajib mencintai, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya karena selain sebagai alat pemersatu bangsa, budaya juga merupakan aset yang berharga bagi bangsa kita. Walaupun memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, kita bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; bangsa kita satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung  bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Penulis :Arifatul Dzakiyyah

XI MIPA 4

TEMA: SATUKAN KEBERAGAMAN DENGAN BAHASA, ERATKAN PERSATUAN DENGAN BUDAYA

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesia yang berbentuk kepulauan ini, merupakan hasil pecahan-pecahan pulau-pulau besar di zaman terdahulu yang kemudian barulah menjadi satu kesatuan yang biasa kita sebut Nusantara ini. Hasil dari pemecahan beragam pulau inilah yang menjadikan Indonesia memiliki beragam suku bangsa, agama, dan ras. Keberagaman ini menimbulkan dampak bahasa yang digunakan di Indonesia pun juga beragam. Disinilah tantangan untuk tetap menjaga persatuan di Indonesia muncul. Banyaknya bahasa daerah tidak menutup kemungkinan untuk tidak berkomunikasi antar warga daerah satu dengan daerah lain, karena sesuai dengan bunyi Sumpah Pemuda yang ketiga, yaitu bahasa persatuan ialah bahasa Indonesia. Tak ada alasan lagi untuk tidak saling berinteraksi antar daerah jika kita sudah memiliki bahasa pemersatu yang semua warga Indonesia wajib mengetahuinya.
            Dampak lain dari keberagaman juga adanya beragam budaya yang dimiliki oleh masing-masing setiap daerah. Kebudayaan yang beragam ini menjadikan Indonesia kaya akan kebudayaan. Tak jarang pula diselenggarakannya pentas seni yang mementaskan tak hanya budaya dari satu daerah saja. Bahkan, kreativitas tanpa batas di zaman modern ini dapat menghasilkan pula karya seni gabungan dari bermacam-macam daerah dan tentunya mendapatkan apresiasi penuh dari warga tanah air. Keberagaman budaya inilah yang menjadi saksi bahwa walaupun banyaknya budaya, tak dijadikan alasan perpecahan di Indonesia.

Penulis : Esa Firdausa
XI MIPA 3

TEMA : SASTRAWAN, PAHLAWAN ATAU BUKAN?

            Pahlawan dapat diartikan ke dalam konteks yang majemuk. Bagi masing-masing pribadi pun akan berbeda pendapatnya tentang apa yang dimaksud dengan pahlawannya masing-masing. Kata pahlawan memang kata benda, namun bisa menjadi relatif seperti kata sifat pada umumnya.
            Sedangkan, siapa itu sastrawan? Seseorang yang mampu bersastra dengan menuangkan idenya dengan imajinasi yang tinggi. Mereka mewariskan banyak karya sebagai sumber literatur dan objek pendidikan. Karya mereka yang menginspirasi juga memotivasi dapat memberi spirit bahkan mendorong para pembacanya untuk melakukan keteladanan yang mereka telah ceritakan di dalam sastranya.
            Lantas, apakah Sastrawan dapat disebut sebagai pahlawan? Tidak perlu dijawab, mari renungkan bersama saja. Sastrawan banyak menginspirasi para pemuda dengan karyanya. Jika tak ada Sastrawan yang melahirkan karya, dari manakah kita dapat melakukan literasi, jika di jaman modern ini, walaupun sudah tersedia gadget penunjang kehidupan, literasi digital masih tidak bisa dibandingkan dengan literasi buku-buku fisik seperti novel, antologi puisi, antologi cerpen, dan lain sebagainya.
Pendidikan pun semakin berkembang. Sekolah menengah atas kini banyak yang menyediakan program bahasa bagi para peminatnya. Sastra disini memiliki peran penting sebagai penunjang pendidikan dalam program bahasa di sekolah menengah atas. Program bahasa ini yang nantinya akan diarahkan menjadi seorang sastrawan di masa kemudian.
Apabila sastra yang sekarang kita nikmati sekarang adalah hasil karya para sastrawan sebelum kita, maka belajar sastra dan menghasilkan karya sastra di hari ini, akan bermanfaat juga di masa yang akan datang, masa dimana gadget hampir menguasai seluruh dunia, namun hanyalah sastra yang dapat menggantikan itu semua. Walaupun literasi digital pun tak kalah memiliki karya sastra di dalamnya, namun teknologi tidak bisa dipertanggung jawabkan isinya kepada pemiliknya. Semua orang dapat mempulikasikan karyanya bahkan menjiplak karya lain pun di internet. Oleh karena itu, hanya karya sastra yang memiliki tanggung jawab penuh dari penciptanya dan dilindungi oleh undang-undang hak cipta.
 Negara ini perlu sastrawan-sastrawan yang unggul dalam menuangkan ide pikiran dengan imajinasi tinggi untuk membawa generasi emas yang akan diharapkan menjadi pemimpin Indonesia di tahun 2045 mempunyai motivasi penuh menggerakan Indonesia semakin berkembang bahkan Indonesia sudah memiliki potensi sebagai negara maju di tahun-tahun ke-100 Indonesia merdeka, yaitu tahun 2045.
Dengan itu, apakah Sastrawan masih kurang layak disebut sebagai Pahlawan?
Penulis : Esa Firdausa
XI MIPA 3

Eratkan Persatuan dengan Budaya Toleransi Sejak Dini


Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state) dihadapkan pada heterogenitas atas dasar perbedaan budaya yang disumbangkan dari seluruh penjuru negeri. Dalam kondisi masyarakat plural, persoalan multukuturaisme bukanlah hal baru lagi karena sejak awal bangsa ini berdiri sudah diwarnai keanekaragaman suku, etnis, agama,dan lain sebagainya. Indonesia sadar bahwa keberagaman bukanlah ajang perdebatan melainkan suatu kekayaan yang harus terus dilestarikan. Namun faktanya, akhir-akhir ini keutuhan NKRI selalu diterjang  konflik-konflik yang didalangi perbedaan budaya. Problematika tersebut mulai muncul di era globalisasi. Ada banyak faktor yang menjadi pemicu diangkatnya perbedaan menjadi masalah nasional.

Awal mula kedatangan globalisasi datang membawa janji kemajuan teknologi. Di sisi lain, globalisasi juga membawa budaya barat yang jelas berbeda dengan moral orang timur. Hal itu tidak mustahil mengingat bangsa barat memang lebih unggul dalam penguasaan teknologi. Kurang bijaknya proses akulturasi budaya menjadikan moral masyarakat Indonesia terkikis terutama para remaja dikarenakan kehidupannya tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran teknologi. Akibatnya budaya asli negeri hilang seiring bertambahnya zaman.

Apabila dibiarkan, generasi-generasi Indonesia akan terus teracuni teknologi. Bukan hal mustahil jika suatu nanti bangsa ini bubar sebab hilangnya jiwa toleransi sebab asyik membanggakan budaya bahkan tidak tahu kebudayaan sendiri. Oleh karena itu, penanaman nilai moral positif perlu digalakkan agar benar-benar menancap pada diri masyarakat. Tentunya presentase keberhasilan gagasan tersebut meningkat jika sudah dibudidayakan sejak dini.

Seluruh elemen diwajibkan andil bagian. Dunia pendidikan dimana anak-anak menghabiskan waktunya setiap hari harus menjadi aktor utama pembentukan karakter generasi muda. Pendidikan dianggap krusial mengingat umumnya di sinilah anak-anak mulai mengenal perbedaan baik agama, ras, suku, etnis, dan budaya. Dari pernyataan di atas bisa disimpulkan anak mulai belajar menanggapi suatu perbedaan. Oleh karena itu, pendidikan dini memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak ke dedepannya. Melalui pendidikan, anak diharapkan mampu menghargai multikulturalisme sebagai aset negara yang sangat berharga yang wajib dijaga. Sebab tanpa adanya rasa toleransi konflik-konflik diferensi budaya dalam negeri akan terus memanas hingga akhirnya berujung perpecahan.



Penulis : Akhmad Nur Muzakki

X1 MIPA 2

Pelajar dan Sastra Bagaikan Pahlawan dengan Taktik Gerilyanya


Pasti para pelajar sudah terbiasa mendengar kata “sastra.” Sastra sering disebut dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Karya sastra berdasarkan bentuknya ada puisi, prosa,  dan drama. Berdasarkan waktu pembuatannya ada satra lama, seperti pantun, syair, gurindam, dongeng, dan hikayat. Kedua ada sastra baru, seperti semua puisi bebas yang tidak termasuk puisi lama, cerpen, dan novel. Kemudian apa yang dimaksudkan dengan “Pelajar dan Sastra Bagaikan Pahlawan dengan Taktik Gerilyanya”? Sastra dapat menjadi jembatan bagi pelajar meraih masa depan cemerlangnya, seperti para pahlawan dengan taktik gerilyanya untuk meraih kemenangan. Ada pelajar yang memang minat untuk berkecimpung dalam dunia sastra dan seni, maka dari itu mereka pasti mempelajarinya. Lalu bagaimana dengan pelajar lain yang tidak punya bakat dan minat untuk berkecimpung di dalam dunia seni dan sastra? Apakah mereka harus tetap mempelajarinya? Dan apabila mempelajarinya, apa manfaat yang didapatkan?

Umar bin Khattab pernah berpesan, ajarkan sastra kepada anak-anaknmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani. Pesan Umar cukup menggambarkan kaitan erat antara sastra dan pembentukan karakter seseorang. Dengan belajar sastra, kita menjadi tahu makna kehidupan. Kita terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan keindahan dan kelembutan. Selain memperluas pengetahuan kita memperluas pengetahuan karena menyajikan cerita berdasarkan kondisi nyata.

Sebuah riset yang dilakukan oleh David Comer Kidd dan Emanuele Castano dari New School For Social Research menemukan bahwa novel satra dapat membantu pembacanya menjadi lebih empatik terhadap orang lain. Riset tersebut melibatkan 1000 partisipan, di mana mereka secara acak diminta untuk membaca novel populer atau novel sastra. Dalam riset tersebut, kedua pakar menggunakan teknik teori pikiran (theory of mind) untuk mengukur seberapa akurat partisipan mengidentifikasi emosi yang dialami oleh orang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang membaca novel sastra lebih akurat dalam mengenali emosi seseorang dibanding mereka yang membaca novel populer. Di sisi lain membaca karya sastra membuka diri kita terhadap informasi-informasi yang baru serta lengkap, pembaca akan memperoleh ide-ide yang cemerlang yang lebih kreatif. Seperti pesan dari Buya Hamka “sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra.”

Banyak pelajar yang suka mengambil suatu kesimpulan, misalnya seperti saat mereka memiliki cita-cita menjadi dokter, kemudian mereka berpikir apa gunanya mempelajari sastra dan pelajaran lain yang mereka anggap tidak digunakan saat menjadi dokter.  Berpikir seperti itu sangatlah salah besar! Ketika mempelajari sesuatu, saya misalkan itu ketika kalian belajar sastra, tidak selalu belajar itu tentang isi, belajar itu juga tentang proses dalam usaha memahami isi. Apa yang paling penting tapi kadang terlupakan adalah cara otak melatih berpikir dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, itu membuat pikiranmu tajam dan membuatmu berpikir cepat dan paham dengan baik.

Jadi pikirkan tentang itu. Bagaimana belajar sastra bisa melatih kemampuan berpikirmu? Lagi, ketika kamu mulai bekerja di masa depan kamu tidak harus ingat kisah Romeo dan Juliet. Namun, sastra melatih otakmu seperti untuk berpikir kreatif, belajar tentang emosi manusia dan bagaimana perilaku manusia, mengamati dan memahami interaksi manusia, membaca pikiran orang, mengorganisasikan informasi untuk mendukung suatu argumen. Lagi-lagi seluruh keterampilan berpikir penting bagimu untuk meraih sukses sebagai aktor, guru, pengacara, manajer, orang bisnis, psikolog, dokter bedah, politisi, periklanan, jurnalis, komandan tentara, atau pemimpin apapun. Singkatnya, kamu membutuhkan keterampilan dalam setiap profesi.

Belajar sastra sangat penting karena manfaat yang kita dapat bisa menjadikan kita pandai mengolah emosi dan rasa. Hal itu tentu diperlukan untuk kehidupan pelajar yang suatu saat akan terjun dalam masyarakat.



XI MIPA 2


PAHLAWAN, PEMERSATU NEGERI


PAHLAWAN, PEMERSATU NEGERI

Essay






























Oleh    :

Carica Deffa Yullinda



XI MIPA 1

Tahun 2018





Pahlawan, Pemersatu Negeri



Pahlawan. Kata itu tentunya sudah tidak asing di telinga kita. Pahlawan adalah seseorang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela tanah air. Berdirinya Indonesia tentunya tidak lepas dari jasa para pahlawan. Keberhasilan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia didapatkan karena sikap dan keteladanan mereka. Pada saat ini, kita sudah tidak berjuang melakukan perlawanan terhadap penjajah lagi, kita hanya cukup mencontoh sikap dan keteladanan pahlawan agar persatuan negeri lebih kokoh.

Indonesia lahir dengan jerih payah para pahlawan. Mereka berjuang dengan susah payah untuk mencapai kemerdekaan. Tidak peduli dengan bahaya apapun yang akan didapatkan, mereka tetap memperjuangkan Indonesia dan membuktikan kejayaan Indonesia. Perjuangan itu tentunya tidaklah mudah, Pahlawan harus mengerahkan seluruh jiwa raga untuk melawan penjajah. Berkat keteladanan para pahlawan, Indonesia berhasil lepas dari kekuasaan penjajah dan dapat berdiri sebagai Negara yang memiliki keragaman suku, budaya, dan bahasa. Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Itu berarti, walaupun penduduk Indonesia beraneka ragam, kita harus tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita harus bisa mencontoh sikap pahlawan, mereka berasal dari wilayah yang berbeda-beda, dengan cara yang berbeda pula, namun dengan satu tujuan yang sama, yaitu Indonesia merdeka. Sikap pahlawan tersebut mencerminkan semboyan Negara Indonesia. Pada saat ini, kita sudah lepas dari genggaman penjajah, namun kita harus tetap waspada dengan isu atau konflik yang terjadi antar daerah. Walaupun sekarang Negara Indonesia sudah aman dari penjajah, namun keteladanan pahlawan harus tetap dicontoh untuk tetap tegaknya Persatuan Indonesia. Kita, sebagai rakyat Indonesia harus memiliki sikap semangat bersatu dan toleransi antar masyarakat yang memiliki perbedaan SARA. Di sisi lain, rasa memiliki Indonesia sebagai tanah air juga harus ditingkatkan agar kita semakin mencintai NKRI. Kita tidak boleh mudah percaya terhadap isu-isu yang memecah belah Indonesia. Sebagai rakyat yang cerdas, kita seharusnya dapat memilah antara hal yang benar atau salah supaya persatuan Indonesia tidak terpecah belah. Sikap-sikap tersebut mencerminkan keteladanan pahlawan yang menjadikan negeri ini mampu bersatu walaupun terdapat banyak perbedaan di antara masyarakatnya.

Persatuan Indonesia akan lebih kokoh dan tidak mudah terpecah belah jika kita mampu menerapkan sikap seperti pahlawan yang berjuang di medan perang. Keteladanan mereka patut dicontoh oleh rakyat Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seharusnya tidak menjadikan hambatan bagi rakyat Indonesia untuk bersatu. Justru perbedaan itu yang akan mengantarkan rakyat Indonesia menjadi negeri yang kokoh bersatu di bawah keberagaman.  Kita harus bisa menjadi pahlawan masa kini yang tidak lagi berjuang di medan perang, namun berjuang demi kokohnya NKRI.




[FILE]

Terselubungnya Jiwa Pahlawan Gerilya Dalam Diri Pelajar dan Sastra



ESSAY DALAM RANGKA BULAN BAHASA

SMA N 1 PURWOREJO











Oleh: Dennisa Putri Ramadhani

Semester 3 MIPA 1











SEKOLAH MENENGAH AKHIR NEGERI 1 PURWOREJO

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Terselubungnya Jiwa Pahlawan Gerilya

Dalam Diri Pelajar dan Sastra

Pahlawan adalah orang yang telah berjasa bagi sebuah bangsa. Pahlawan berani mempertaruhkan jiwa dan raganya bagi kemakmuran dan kemajuan bangsanya dan senantiasa membela kebenaran. Contoh dari jiwa pahlawan adalah pelajar dan karya sastra hasil buah pikir dari para sastrawan. Hal itu disebabkan oleh pemikiran, jiwa, dan tujuan dari pahlawan dan sastra sesuai dengan konsep kata pahlawan. Jika disebut demikian, maka pelajar dan sastra mampu diibaratkan sebagai pahlawan dengan teknik gerilyanya sendiri.

Gerilya adalah perang atau perjuangan yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau secara tidak langsung dan tidak terikat oleh suatu ketentuan. Gerilya tidak hanya bersangkutan dengan peperangan melawan penjajah, tetapi juga bisa dikaitkan dengan perkembangan peradaban dan globalisasi. Oleh sebab itu pelajar dan sastra dapat diibaratkan sebagai pahlawan dengan strategi gerilyanya sendiri.

Setelah melihat uraian di atas dapat saya peroleh beberapa alasan dan bukti yang mampu menjelaskan uraian tersebut. Pelajar merupakan salah satu senjata bagi sebuah bangsa untuk mendobrak suatu peradaban. Pikiran yang kritis dan inovatif mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk melakukan atau menolak suatu hal. Hal ini yang mendorong arti penting pelajar bagi keberlangsungan hidup suatu negara. Seperti yang dikataan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Sumeru dari akarnya dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Hal itu membuktikan bahwa pelajar mampu menjadi harapan untuk bergerilya melawan kemajuan dunia dan globalisasi yang mampu menggerus kedaulatan bangsa. Pelajar juga mampu ditempatkan di barisan terdepan sebagai pencipta inovasi dari setiap karya dan semangat cinta tanah airnya.

Pelajar bisa disebut sebagai seorang pahlawan bagi bangsa karena pada era globalisasi ini pahlawan tidak bisa hanya dikaitkan dengan peperangan. Kecakapan dan semangat tinggi untuk menuntut ilmu mampu menunjukkan kehebatan suatu negara. Tentu hal ini bisa menjadi alasan kenapa pelajar bisa menjadi pahlawan yang terpendam bagi sebuah negara dengan taktik gerilyanya. Fakta yang dapat menunjukkan pernyataan di atas adalah bahwa negara maju memiliki sistem pendidikan terbaik. Negara-negara tersebut adalah Korea Selatan, Jepang, Singapore, Hongkong,dan Inggris. Hal ini dikarenakan mereka sadar bahwa pelajar mampu menjadi senjata untuk bersaing di masa digital ini.

Sastra adalah hasil dari suatu kegiatan kreatif yang memadukan unsur estetika dan komunikatif yang berisikan ide, pemikiran, dan gagasan dari pengarang. Sastra memiliki ide gagasan, pengalaman, dan amanat yang ditujukan kepada pembaca. Penciptaan sastra melalui proses yang panjang. Hal ini menyebabkan sastra mempu menempatkan diri menjadi suatu hal yang berharga bagi kehidupan masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa satra tercipta karena pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pradopo (2002:59) mengemukakan  bahwa karya sastra secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang. Maka sastra mampu mempengaruhi masyarakat untuk mengenali, memilih, dan meyakini yang benar sebagai hal yang benar dan salah sebahai hal yang salah sesuai pandangan dari sastrawan.

Sastra mencakup hal yang luas sehingga bisa mempengaruhi para pembaca. Terkait hal itu pula Ikhwanuddin Nasution dalam tulisannya pada saat pengukuhan guru besarnya di Universitas Sumatra Utara (Nasution, 2009 : 2) menyatakan bahwa karya sastra (sastra) merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Karya sastra tidak terlepas dari sosial-budaya dan kehidupan masyarakat yang digambarkannya. Oleh karena itu, sastra bisa menjadi suatu senjata yang sulit dimusnahkan dan dilihat dengan kasat mata. Contoh nyata ketika Belanda melarang setiap sastra atau tulisan dari para sastrawan dan para pejuang karena mereka takut rakyat Indonesia bersatu lewat isi dari tulisaan tersebut.

Sastra dapat dimengerti secara baik jika kita mampu memahami setiap kata dan penggambaran dari sastra itu sendiri. Bukan tidak mungkin bahwa saat ini sasta dan tulisan sangat banyak digunakan untuk mengadu domba berbagai pihak. Tentu saja kita sebagai pelajar harus bisa memanfaatkan karya sastra untuk kepentingan memajukan bangsa. Taktik gerilya yang digunakan adalah dengan menciptakan karya yang mampu menumbuhkan rasa semangat dan cinta tanah air Indonesia. Tidak hanya itu, karya sastra bisa mencerminkan kehidupan bangsa. Contohnya adalah banyaknya artikel, berita, dan karya sastra lainnya yang diunggah di berbagai media, terutama internet. Di era globalisasi ini sastra tulis sangat berpengaruh dan dapat menjadi jendela informasi untuk melihat keadaan suatu negara.

Dapat dikatakan bahwa sastra dari para sastrawan mampu menjadi suatu taktik bagi bangsa untuk mempertahankan semangat cinta tanah air. Sastra mampu membangkitkan semangat rakyat bangsa untuk selalu bekerja bersama mencapai cita-cita bangsa. Sastra memiliki banyak bentuk dan setiap bentuk sastra memiliki bentuk dan cara penyajian yang tidak sama. Contohnya novel Lingkar Tanah Lingkar Air  karya Ahmad Tohari yang telah menjadi bacaan kaum muda Indonesia selama 25 tahun. Buku ini berisi tentang pemuda desa yang berjuang mengusir tentara Belanda dan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Novel tersebut mampu memberikan gambaran kepada pembaca tentang perjuangan mempertahankan kedaulatan. Kisah perjuangan yang digambarkan dalam novel mampu mengobarkan semangat persatuan.

Contoh lainnya adalah puisi yang berjudul “Rakyat” karya Hartoyo Andang Jaya yang bercerita tentang keadaan rakyat Indonesia pada waku itu. Puisi ini menggambarkan kesengsaraan rakyat Indonesia yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra mampu menggambarkan keadaan sosial hingga ekonomi rakyat sehingga rakyat tidak buta terhadap kepemimpinan pemerintah yang tidak adil. Karya ini mampu meenyadarkan rakyat tentang apa yang salah dan yang benar.

Oleh karena itu, pelajar dan sastra mampu digambarkan dan dijadikan pahlawan dengan taktik gerilyanya sendiri. Mereka dapat disebut sebagai pahlawan kerena memiliki jiwa, semangat, dan cinta kebenaran yang sejalan dengan jiwa ksatria seorang pahlawan. Pahlawan tidak hanya berkaitan dengan perang senjata, tetapi juga bisa menjadi julukan bagi orang yang telah berjasa menghidupkan suatu kebenaran dan cita-cita. Salah satu contohnya adalah perjuangan kedaulatan dan cita-cita pada masa globalisasi.

Perjuangan seorang pahlawan memerlukan pengorbanan dan taktik atau strategi agar tujuan dapat tercapai. Kekuatan pelajar adalah dari pemikiran yang kritis inovatif dan fisik yang kuat. Hal itu mampu menjadikan sosok pelajar yang kuat dan berpengaruh bagi kehidupan berbangsa pada masa globalisasi. Demikian pula dengan sastra, sastra memiliki kekuatan pada makna dan filosofi penciptaan yang mampu mempengaruhi para pembaca. Oleh karena itu, sastra dan pelajar dapat diibaratkan sebagai pahlawan dengan taktik gerilyanya sendiri.

[FILE]

Perkokoh Persatuan Negeri Melalui Keteladanan Pahlawan

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para pahlawannya. Semangat para pahlawan yang menggebu-gebu mampu membangkitkan semangat masyarakat Indonesia yang saat itu berada di masa sulit. Nilai-nilai semangat perjuangan para pahlawan harus diteladani oleh bangsa, agar terus bisa berkontribusi positif untuk membangun Indonesia.
Walaupun berbeda asal usul dan latar belakang, para pahlawan Indonesia tidak menjadikan hal itu sebagai sebuah halangan. Perbedaan itu malah membuat para pahlawan bersatu dan kuat. Semangat pantang menyerah pahlawan bisa menjadi motivasi untuk kita. Apapun kesulitan yang dihadapi bangsa Indonesia, kita harus yakin dan optimis bisa melaluinya. Apalagi semua dilandasi dengan semangat persatuan dan kesatuan. Terutama oleh anak muda agar terus berpikir kreatif dan positif.
Sekarang ini rasa kebersamaan dan tanggung jaab bisa dikatakan nyaris tidak ada. Sebagai contoh, suatu pemerintahan daerah banyak diantara mereka antara gubernur, bupati, maupun walikota dengan wakilnya tidak sejalan. Disamping itu juga diantara mereka kurang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
Kalau dilihat sekarang rasa persatuan dan kesatuan sudah dibilang tidak ada lagi. Dari segi pemerintahan banyak kebijakan yang lebih mengutamakan golongannya saja dan tidak memperhatikan apakah kebijakan tersebut akan merugikan pihak lain. Begitu juga danya gesekan di masyarakat seperti perkelahian pelajar maupun tawuran antar kampung seringkali terjadi.
Kepedulian terhadap bumi pertiwi kita juga luntur, sebagai contoh orang yang mempunyai potensi demi kemajuan bangsa ini lebih memilih berkarir diluar negeri dengan alasan kurangnya perhatian pemerintah dan kecilnya gaji yang diperoleh. Terlebih lagi semnagt rela berkorban yang dicontohkan para pahlawan rela berkorban apasaja bahkan nyawanya.
Seperti yang kita ketahui setiap tanggal 10 November kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Apakah pahlawan kita yang berjuang merebut dan mempertahankan keerdekaan mengharapkan di peringatai oleh seluruh bangsa Indonesia? Tentu jawabannya tidak. Akan tetapi sebagai generasi penerus bangsa untungnya kita harus dapat melaksanakan harapan para pahlawan kita dengan mengisi kemerdekaan yang sudah mereka rebut dengan susah payah dengan mengorbankan harta, benda bahkan jiwa raganya.
Oleh karena itu mari kita sama - sama merenung dan bertindak sesuai dengan kapasitas masing - masing dalam mengisi kemerdekaan dan memerkokoh persatuan negeri dengan meneladani para pahlawan kita.
Penulis : Michelle Aprillia Clara A. P.
X IBB

Satukan Keberagaman dengan Bahasa, Eratkan Persatuan dengan Budaya


Dengan keberagaman bahasa dan budaya dapat menjadikan negeri kita ini, menjadi negeri yang kaya. Banyaknya bahasa yang ada di Indonesia, semakin menambah kekayaan yang dimiliki negeri kita. Bahasa adalah alat komunikasi, tanpa adanya bahasa kita tidak dapat berkomunikasi. Dan tanpa adanya komunikasi, kehidupan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik.

            Setiap daerah di Indonesia, memang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Mungkin jika masyarakat di Daerah A, berkomunikasi dengan masyarakat di Daerah B, menggunakan  bahasa daerahnya masing-masing, tidak saling mengerti, maka hal tersebut tidak dapat disebut sebagai komunikasi.

            Bahasa Indonesia inilah yang akan memudahkan kita semua dalam berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi itu sendiri sangat penting, dengan berkomunikasilah kita dapat melakukan hubungan dengan masyarakat. Tanpa adanya komunikasi, masyarakat negeri ini tidak dapat bersatu atas keberagaman yang ada di Indonesa.

            Persatuan ini juga dapat kita pererat, dengan budaya-budaya yang ada di Idoensia. Sangat di sayangkan bila keberagaman  budaya dijadikan kambing hitam berbagai konflik yang terjadi di negeri ini. Padahal keberagaman ini bisa menjadi potensi yang luar biasa, terlebih untuk mempersatukan bangsa Indonesia sendiri. Budaya antar daerah belum tentu sama, tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa hidup bersama.

            Budaya dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Wujud kebudayaan di Indonesia seringkali melibatkan banyak orang. Festival seperti reog, wayang, sekaten, dan pertunjukan tari banyak menyedot perhatian masyarakat. Dalam kegiatan tersebut terjadi interaksi yang cukup intens untuk mempererat hubungan antar individu dalam masyarakat.

            Budaya Indonesia juga memiliki nilai-nilai filosofis yang menjunjung persatuan. Selametan, mantenan, dan brokohan merupakan contoh budaya yang bertujuan untuk merasakan kesenangan ataupun kepedihan sesamanya. Sedangkan sambatan dan gerobohan diadakan untuk membantu ketika seseorang mempunyai hajat tertentu seperti membangun rumah. Dari budaya-budaya inilah Indonesia menjunjung tinggi asas gotong royong.

            Memiliki budaya juga menandakan bahwa kita memiliki sesuatu untuk dibela. Kita tentu tidak ingin apa yang kita miliki diambil orang yang tidak berhak.  Ketika banyak budaya kita di claim oleh negara lain, masyarakat berbondong-bondong bersatu membela budaya kita. Dengan cepat rasa kesatuan akan terbentuk ketika musuh tampak.

            Sayangnya, rasa kesatuan instan seperti itu tidak bisa diandalkan karena hanya timbul mengikuti trend yang sedang bergulir. Kita tidak busa menunggu dcuri baru menyadari betapa berharganya milik kita. Persatuan harus ditumbuhkan dari kecintaan terhadap bdaya buangsa. Dengan demikian akan terbentuk rasa takut akan kehilangan, bukan malah ketakutan setelah kehilangan.

            Disisi lain glonbalisasi mengancam eksistensi kebudayaan Indonesia, yang mana juga berarti mengancam persatuan bangsa. Generasi muda menjadi sasaran empuk dalam proses akulturasi budaya di era ini. Bukan berarti anti moderenitas, tapi kita harus bisa  memilah mana yang baik dan mana yang tidak.

            Sudah sepatutnya pemerintah beserta masyarakat memberikan perhatian lebih untuk melestarikan keberagaman budaya Indonesia. Bukan hanya sekedar objek pariwisata untuk memutar roda perekonomian, tapi juga sebagai alat pemersatu bangsa.



Penulis : Chaerani Sukma A.

X IBB


Sastrawan itu Pahlawan


Sastra adalah hasil dari suatu kegiatan kreatif yang memadukan unsur estetika dan komunikatif yang berisi ide, pemikiran, dan gagasan dari pengarangnya. Sastra adalah cerminan paling jelas dari masyarakat itu sendiri. Sastra punya kaitan erat dengan budaya dan kehidupan masyarakat. Maka dari itu, sastra jelas mengambil kontribusi dalam kehidupan, termasuk mempengaruhi kehidupan sosial, sekonomi, politik, dan aspek lainnya. Sastra juga berperan penting dalam proses pembentukan karakter bangsa.

Sayangnya, peran sastra yang sedemikian kurang disadari masyarakat. Mereka memandang sastra sekadar sebagai rangkaian kata tak berarti. Karya-karya apik cenderung disepelekan, hanya dianggap kiasan yang menguras kantong. Persepsi itu berkembang dikalangan masyarakat, termasuk pelajar. Tidak heran, pandangan masyarakat yang sedemikian membuat minat baca Indonesia berada di posisi bawah. Dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Indonesia masih kalah telak. Kalau sudah seperti ini, siapa yang bisa membantu mengubah stigma negatif itu selain sastrawan hebat dengan karya ajaib yang membuka pikiran masyarakat?

Di zaman sekarang, pemerintah memang sedang heboh menggembor-gemborkan masalah peningkatan minat literasi. Tanpa buah tangan sastrawan luar biasa, apa yang akan disuguhkan sehingga menyadarkan masyarakat tentang betapa pentingnya membaca?

Memang ada juga sastrawan yang menerbitkan banyak buku hebat di era millenial ini, namun Indonesia tetap selalu akan butuh karya yang lebih dari apa yang telah ada, kan? Jelas tidak bisa hanya terus menggemborkan satu karya, yang mana malah hanya akan membuat masyarakat jengah dan kembali ke persepsi bahwa sastrawan hanyalah manusia yang sekadar menjual kata. Oleh sebab itu, selain berusaha mendobrak minat baca dengan pelajar sebagai sasaran utama, pemerintah juga harus sanggup mendobrak kreativitas masyrakat agar terus lahir karya sastra yang luar biasa. Harus ada sastrawan yang mampu menyaingi Pram dengan Bumi Manusia-nya, atau Chairil dengan Aku yang terus di sajakkan. Untuk apa? Sederhana saja, agar Indonesia makin kaya ilmu. Sastra adalah jembatan sekaligus jendela paling sederhana untuk mengintip dunia luas. Tidak ada yang sia-sia dari membaca, tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk duduk dan menulis, karena dampak dari itu semua akan kembali ke kita, sebagai wawasan luas yang berguna dalam kehidupan.



Penulis :  Ekya Putri Berliana

X IIS 2